facebook twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Insight
    • Ngomongin
      • Ngomongin Duniai
      • Ngomongin Hidup
      • Ngomongin Hati
    • Galeri
    • Error Page
  • Daily Story
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
  • About Me

.. Muh. Aldy Jabir ..



.....Sebuah tumpukan kata, dari hambanya yang bernoda-

Aku hanyalah sebuah titik hitam kecil, yang terserak pada genangan dosa. Tinggal gelap pekat yang bersanding di ruang yang tak kusebut indah. Aku hanyalah abu yang tak pantas tertawa. Aku hanyalah debu yang tak layak diberi kasih. Perih!

Sajak-sajak perubahan, telah terukir di pangkal hati. Ditemani kepulan penyesalan yang tak kunjung habis. meratap kepedihan yang tak berputus. Namun tak hendak menitih jalan meretih. Karena ketiadaan-Nya dihatiku membuatku pilu.

Aku berlari mendahului bayang-bayang tubuhku, mengejar dimana cahaya itu kan berada. Hingga aku pun terjatuh ditelan kilau-Nya, "mempesona"

Tak ada yang lebih indah daripada jatuh hati kepada-Nya. Pada-Nya aku tenang, merekah rindu bagai pualam. Pada-Nya aku berpasrah, merotasi hati yang dibolak-balik. Pada-Nya aku rindu, menyapu sendu masa lalu hingga di sudut riak berdebu.

Kadang aku terlalu jauh mencari, namun melupa Zat yang paling dekat. Sampai nama-Nya menetap dengan indah di terik malam yang menyinari sepi. Teramat dekat. Karena cinta adalah caraku mendekat padaNya. Memantaskan diri dari segala kepantasan yang memang tak pantas.

Aku adalah setetes air yang dipercikan pada lautan. Yang melebur menjadi ranum, dalam sekap, pada hambar di ruang hampa. Aku mungkin asing, menghilang di telan diam. Bukan siapa-siapa, hanya merindu, menunggu mencari cahaya yang sempat aku kejar bersama bayang-bayang.

Kini aku tahu, perih-pilu dan bayang-bayang adalah caraku untuk mengenal-Nya. Sebab bersujud pada-Nya adalah hal yang kini kusebut cinta, dan rindu tak ubahnya penawar hati di kala hijrah.

(Jl. Muhajirin 'tempat orang-orang yang berhijrah', 6 November 2016)

-Di kala hujan yang mengingatkan dosaku



Engkau adalah satu rasa yang membias untuk saling bertukar ikhlas
Engkau adalah rintik embun pada jeritan kalbu yang anggun
Serta aku hanyalah gerimis, sebagai hadiah yang tak berbingkis

Aku melamun pada cinta yang terpendam. Memetik harap pada temaram. Jelang tiga tahun aku merekah cinta pada seragam kuning berkotak. Lidah ini tak kunjung jua menyulam kata membalut cinta untuk engkau dengarkan. Terkadang! Hanya desir rindu yang beradu randu, sampai rintih menyusuk hati, hingga perih meniris dada yang berkabung.

Sebab jatuh cinta adalah kejelasan  tak berpenjelas yang membutuhkan kejelasan tanpa perlu banyak penjelasan 


Ada alasan untuk kami agar selalu bersama.  Selalu bercengkerama dalam setiap waktu. Selalu tersenyum bahkan pada deru ombak dan pasir basah yang terkulai. Teringat, kita senantiasa bertaut menjelajah hingga lelah. Setapak ingatan selalu terukir dalam setiap aktifitas kita.

Dan kita telah berpisah
Walau masih bersama
Older Posts

Tentangku


Hello, There!

Muh. Aldy Jabir, anak pertama dari 3 bersaudara dari pasangan Muh. Jabir dan Nurismi. Kini ia menempu pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Universitas Negeri Makassar) dan jurusan Ilmu Ekonomi (Universitas Hasanuddin).



LET’S BE FRIENDS

Followers

@AldyJabir
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates