Bencilah Sifatnya tetapi Cintailah Orangnya, Jangan Sampai Ukhuwah Goyah Karena Kekhilafan.
Kembali mengenang perkataan seorang pemuda
“Hidup ini benar-benar indah, jika kita mau berbagi dalam
banyak hal. Berbagi ilmu, cerita, nasihat, senyum, hikmah dan pengalaman serta
motivasi. Berbagi itu menguatkan persaudaraan, melembutkan hati, mengokohkan
jiwa, menghancurkan keangkuhan dan merobohkan keegoisan.”
Dan ketika mengenang kembali perkataan ini, lisan ini serasa
ingin berucap, dan jemari ini seakan ingin bergerak. Menekan satu persatu
tombol yang ada di laptop ini dan merenungi apa yang ingin saya bagikan.
Sampai hati ini menegur kepada diri “tulislah hatimu
sekarang” ujarnya pada senyap tak terdengar oleh telinga, tapi batin mengetahui
maksudnya. Kemudian lantai kamar ini seakan ingin bersorak dan meneriakiku di
tengah dinginnya malam, menjadikan malam menjadi kelam sehingga membuatku
merenungi dosa yang telah saya perbuat pada seharian ini.
Tatkala jiwa ini mulai menginstropeksi masalah yang telah
saya perbuat, tibalah suatu ingatan tertuju pada kisah yang begitu miris.
Kisahku pada sahabatku. Hari ini aku telah berbuat salah dengannya. Miris
bukan? Saya yang setiap harinya berkoar “Perkuatlah
ukhuwah” justru malah menggoyankannya pada hari itu. Sungguh durjana diri ini
pada saat itu, melemahkan syahdunya ikatan persaudaraan kami. Dan kesalahan itu
yang teringat pada malam ini untuk saya renungi kembali.
Mungkin saya tahu, bahwa terhadap satu orang aku selalu membenci
luputnya tapi tetap cinta dan sayang pada pelakunya itulah sikapku selalu. Pada
diriku sendiri.
Mengingat ujaran imam Syafi’I “aku mencintai orang-orang sholih” begitu
katanya, diiringi air mata “meski aku bukanlah bagian dari mereka dan aku
membenci para pemaksiat-Nya meski aku tak berbeda dengan mereka”
Yaaa, mungkin dia benar...
Tapi dalam tiap ukhuwah dan cinta dalam tiap ikatan yang
Alloh jadi saksinya aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi. karena
tiap orang beriman tetaplah rembulan memiliki sisi kelam, yang tak pernah ingin
ditampakkannya pada siapapun maka cukuplah bagiku memandang sang bulan pada
sisi cantik yang menghadap ke bumi tertentu, tanpa kehilangan semangat untuk
selalu berbagi dan sesekali merasai gelapnya sesal dan hangatnya nasehat
sebagaimana sang rembulan yang kadang harus menggerhanai matahari
Begitulah nasihat Dalam Deka[an Ukhuwah, nasihat penting
pada persaudaraan kami. Khawatirlah kepada kemaksiatannya, namun tetaplah
mencintainya. Jangan sampai karena engkau melihatnya sedang melakukan suatu
perbuatan dosa menjadikan dirimu memutuskan persaudaraanmu dengannya. Atau
bahkan membawamu pada gerbang kedosaan.
Bencilah sifatnya, tapi jangan orangnya. Tetaplah jaga
persaudaraan ini, karena sejatinya ketika tegur sapa pun terasa menyakitkan,
pertemuan terasa sengsara. Maka sesungguhnya bukanlah ukhuwah kita yang lemah
akan tetapi iman kita yang compang-camping.
Itulah sebuah pesan
yang harus saya muhasabahkan diri ini. Jangan sampai khilaf ini menjadikan
ikatan saudara seiman kami menjadi runtuh. Haruslah ada kata maaf yang keluar
pada bibir ini fajar esok, kembalikan ikatan ini dengan senyum, ikhlas, maaf,
dan do’a serta niat karena Allah SWT.
Semoga sahabat pembaca, bisa mendapatkan hikmah dari
curahan saya kali ini..
____________________________________
Sumber Gambar: encrypted-tbn2.gstatic.com
____________________________________
Sumber Gambar: encrypted-tbn2.gstatic.com

0 comments