Tarbiyah Dalam Cinta dengan Ukhuwah Orang-Orang Pencari Jati Diri

by - Wednesday, March 11, 2015



Ini bukan Cuma cerita, bukan sekedar kisah tapi ini adalah penggalan hikmah. Kamu tahu tarbiyah nggak? Ada yang mengatakan halaqoh, liqo, majelis dzikir dan masih banyak sebutan lainnya.  Yang jelas di tarbiyah kita belajar. Bukan Cuma agama, tapi seluruh aspek kehidupan.

Tarbiyah, darinya ku belajar makna kehidupan. Tentang bagaimana bersabar, tentang bagaimana tegar, tentang bagaimana tak tercecer...Di sana pertama kali ku eja kalam Illahi hingga masuk ke relung hati, menitiskan butir bening yang makin lama makin deras. Di sana aku mengenal cinta. Cinta yang tak sesempit pemahaman orang kebanyakan. Cinta pada Allah, Rasul-Nya, Kitab-kitabNya dan cinta kepada saudara-saudaraku seiman, seakidah.


Sumber Gbr: Dakwatuna
Tarbiyah menjadi tempat menggesa diri dari sebongkah tanah liat tak berbentuk menjadi sepotong bata kecil untuk ikut menjadi bagian dari bangunan peradaban ini. Walaupun memang, untuk menjadi sepotong bata kecil itu harus dibakar berkali-kali dalam bara ujian kehidupan. Harus sering jatuh bahkan hampir tak bisa lagi bangun.

Tarbiyah berarti pendidikan. Di tarbiyah kita berkumpul untuk di didik. Pendidik kita namanya Murobbi alias tentor kita, dan kita adalah mutarobbi. Di tarbiyah, kami melingkar untuk tumbuh dan berkembang untuk memperbaiki atau meningkatkan sesuatu hingga menuju kesempurnaan seorang muslim. Penghuni lingkaran cahaya itu menjadi saudara seperjuangan. Dalam suka maupun duka. memang tak bisa mengharapkan ukhuwah yang ideal, tapi mengupayakan untuk medekati keidealan selalu menemukan caranya.

Sumber Gbr: hairuluna.devianart

Kok melingkar? Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Ya, di tarbiyah kita melingkar soalnya kalau baris  nanti dikira Paskibra. Ha ha bukan Cuma itu sih, dibalik lingkaran itu punya harapan yang terpendam, dengan lingkaran diharapkan ilmu yang kita dapatkan takkan pernah putus. Dengan melingkar diharapkan agar kita dapat mencapai kesempurnaan seorang mukmin. Dengan melingkar diharapkan agar solidaritas persaudaraan antara kami akan selalu kokoh.

Tarbiyah, darinya ku belajar makna kehidupan. Tentang bagaimana bersabar, tentang bagaimana tegar, tentang bagaimana tak tercecer. Ukhuwah ‘persaudaraan’, rasanya batin tak puas jika tak mendendangkannya. Ya, kini kudapati ukhuwah dalam lena tarbiyah. Kini, jiwaku sedang asyik menikmati pahatan kasih dan melepas dahaga pada ranting tarbiyah.

Siapa yang menyangka bila ternyata sarana ini adalah as-syifa ’obat’. Begitu mudahnya air mata ini menetes

hanya dengan mengingat ‘tarbiyah’ dan kini kurasakan ukhuwah itu menancap dalam kalbu hingga kembali air mata berlinang sebagai tanda rasa haru dan bahagia. Inikah indahnya Islam? Inikah indahnya seiman? Aku tak pernah tahu ‘mereka’ (teman tarbiyahku kini) sebelumnya, namun pertemuan dengan mereka bagaikan telah terjalin beberapa tahun lalu. Hangatnya suasana bercakap dengan mereka, nikmatnya saling mendoakan tatkala jabat terjalin untuk kembali bertemu, dan sejuknya saat dalam pelukan ukhuwah. Inilah nilai yang ditanamkan oleh Rasulullah SAW sejak awal.

Lingkaran kita bagaikan sebatang tubuh. Jika salah satunya lemah maka yang lainpun akan lemah. Dan itu tugas yang lainnya untuk menguatkan satu sama lain. Masih ingatkah Anda tatkala Umar bin Khattab bertemu dengan saudara seiman Abu Bakar? Mereka saling mendoakan, berjabat, dan saling berpeluk. Sungguh gambaran itu bagai menyatu dengan sukma. Dan semua kudapatkan dari ‘tarbiyah’.

“Kini ukhuwah telah mengakar dalam batin, sepekan tak bertemu seakan membakar sukma. Ingin rasanya agar bertemu dengan mu secepatnya” Begitulah kiranya curahan hati seseorang yang rindu dengan tarbiyah.
Islam memang agama yang mengantarkan damai kepada pemeluknya. Aku leleh dalam indahnya.

Allohumma innaka ta’lamu anna hadzihil-quluub, qodijtama’at ‘alaa mahabbatik,

‘Ya, Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas dasar kecintaan pada-Mu.’ Demikianlah rasa indah yang kurasakan, berkumpul atas dasar cinta kepada Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya, Dzat yang tiada setara dengan-Nya.

Ukhuwah mengantarkanku mengenal keterasingan menjadi lekat, hingga tak dapat sepenuhnya kutuang dalam catatan kecil ini betapa aku larut di dalamnya.

Bait-bait doa pun terlantun indah tatkala mengingat mereka dalam lena tarbiyah. Aku beruntung, hidayah bertahta hingga membentuk kekaguman pada-Nya. Kagum akan rasa yang disusupkan pada tiap hamba-Nya. Yang hamba itu tak tahu dari mana datangnya gejolak ukhuwah yang begitu kental. Lagi-lagi, aku terharu. Tiada henti ingin kudendangkan rasa syukur tak terhingga ini pada pengatur skenario dalam hidupku. Mengatur dengan sedemikian apiknya.

Jika sekiranya, ukhuwah ini bisa dibisikkan oleh angin, maka aku ingin sang angin, atas izin Sang Pencipta, menyampaikan rasa terima kasih pada seorang teman yang telah mengantarkanku pada gerbang tarbiyah yang penuh dengan bumbu ukhuwah.

You May Also Like

0 comments