Bongkahan Cerita Lomba PINTAR [Pekan Ilmiah Antar Pelajar] se-Kab Maros

by - Tuesday, February 10, 2015

Jumat, 6 Februari 2015


Ada yang spesial hari ini. Tentu yang special itu bukanlah pacar baru. Akan tetapi hari ini, adalah hari pertama dalam [PINTAR] PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR se-Kabupaten Maros. Ini adalah lomba kedua saya yang saya ikuti  atas nama sekolah selama menginjak masa SMA. PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR  yang diadakan oleh HPPMI UIN Alaudin  memiliki banyak cabang lomba, yakni Debat, Orasi ilmiah, Karya Ilmiah Remaja, da Stand Up Comedy Ilmiiah. Saya sendiri mengikuti lomba ini pada cabang orasi ilmiah. Sedangkan untuk debat di ikuti Bryan Habib Gautama, Diah Tri Lestari (kedua orang ini memang jagonya debat) ditambah Muhammad Syamsu Irham (anak kelas X yang punya pemikiran yang kritis). Untuk karya tulis ilmiah sendiri diikuti Dinda Marzuki (Sekretaris OSIS loh) dan Yang mengikuti Stand Up Comedy “Ilmiah” yakni Yogi Arista Fahrezi

-------------------

Hari ini dipagi yang cerah,  suasana hati saya begitu semangat tanpa ada sedikitpun ketegangan yang  muncul. Ilalang nampaknya bersahutan ketika  saya lekas keluar. Saya menaiki mobil angkutan dengan suasana yang gembira, seakan hati ini melukis di kanvas langit yang biru. Sungguh merupakan suasana hati yang sangat berbeda dari orang-orang biasanya dalam menghadapi lomba mereka.

Pada hari ini, kami tidak hanya berenam, akan tetapi ada juga guru pembimbing kami Pak Syafri dan Bu St. Ali serta tamu undangan mewakili HPPMI SMAN 1Maros dalam pembukaan yakni tiga orang kelas X yang turut mendukung kami yakni Amalia Ilyas ( wakil bendahara OSIS), Jawahirus Saniah (Wakil Sekretaris OSIS), dan Muhammad Arifuddin (Anggota 4 pilar dan HPPMI).

Pembukaan lomba HPPM ini sangat berbeda dan special karena adanyat tarian gandrang bulo yang sungguh menarik para penonton. Saya pun terkagum-kagum melihat pertunjukan itu pada kursi paling depan.

Ditambah lagi Penampilan Visualisasi puisi atau bisa dikatakan dramatisasi puisi special dari KASSA (Kamar Sastra) yang sungguh menggetarkan hati saya, seketika itu cinta saya terhadap sastra makin melambung tinggi dan melayang-layang di bintang kejora. Benar-benar keren deh, sampai saya tak bisa berkata apa-apa.

Pembukaan PINTAR menguras waktu yang begitu lama, setelah perwakilan dari bupati Maros memberi sambutan plus motivasi kepada kami dan bersamaan dengan membuka acara secara resmi. Lomba debatpun segera di mulai.

Dalam jadwal acara, SMAN 1 Maros tampil ke 3 melawan SMA 3 Lau dengan tema, kata teman saya ini adalah lawan yang sulit. Sehingga teman-teman saya tidak menganggap remeh mereka dan belajar semaksimal mungkin dengan tema yang diberikan panitia.

Ada kejadian lucu sesaat sebelum SMAN 1 Maros tampil, yakni ketika saya, Yogi dan Bryan pergi ke toilet antri, kami sempat dikira  oleh seorang ibu-ibu PNS bahwa kami sedang PKL. Tentu ini yang membuat kami ketawa, dan menganggap bahwa muka kami sudah muka orang tua. Padahal kami sudah memakai baju kebesaran sekolah. Sungguh nasib yang miris.

Ini adalah hari Jumat, sebelum shalat Jumat kami diajak makan terlebih dahulu oleh guru pembimbing kami Bu St. Ali. Seorang guru yang ketika membimbing anak muridnya untuk kepentingan lomba tidap pernah mau makan ditempat  yang murah. Kami diajak makan di rumah Makan Idaman yang cukup terkenal. Sebenarnya tidak apa-apa juga sih, soalnya sekolah memang sudah menyiapkan uang untuk kami.

Keasikan makan, kami hampir lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat, segera kami berhenti dan berbegas ke Masjid Al Markas yang kebetulan tidak jauh dari rumah Makan Idaman, sudah Khutbah ke dua sedangkan kami baru datang. Sungguh perilaku yang tidak layak dicontoh.

Ba’da Jumat tepatnya, SMANSA akhirnya tampil juga, sebelum tampil kami berdoa bersama dahulu. Rasa jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya mulai mencuat. Kami yang menonton di bawah malah lebih gugup dari teman-teman kami yang berada di atas. 

Penampilan yang begitu keren dari SMANSA, argumentasi dan bantahan yang menurut saya cukup bagus membuat saya yakin bisa  lolos ke babak selanjutnya. Tapi setelah dikomentari oleh dewan juri ternyata SMAN 1 Maros banyak diberikan komentar negatif, dari etika debat sampai argumentasi yang seharusnya dapat dilontarkan oleh tim kami tapi ternyata tidak kami bidas kepada SMA 3 Lau. Sontak teman-teman kami pun tidak percaya diri karena dari apa yang dikomentari oleh dewan juri yang paling banyak negatifnya adalah SMAN 1 Maros.

Walaupun hari ini kami sudah tampil, dan tidak ada  lagi yang kami perlombakan tapi guru pembimbing kami selalu memberikan nasehat kepada kami bahwa SMAN 1 Maros itu disiplin,  ramah dan paham aturan. Itu terbukti dengan sekolah kami yang datang dari awal dari panitianya. Belum lagi kami tetap menunggu sampai acara berakhir pada hari ini. Bukannya kami tidak yakin untuk lolos sehingga kami harus memastikan sampai pengumuman tim yang lolos di akhir acara, akan tetapi itulah SMAN 1 Maros.

Lewat jam lima sore, debat ditutup dengan pertarungan antara Sekolah Putri Darul Istiqomah dan satunya lagi saya lupa. Iyan, begitu Bryan Habib Gautama disapa, tampak lesuh, menyandarkan kepala di meja dengan ditutupi jaket. Saya baru tahu ternyata begitulah Iyan ketika lomba. Ada panitia yang menegur Iyan, “Kenapa dek, tidak perlu khawatir” dan ternyata SMAN 1 Maros lolos ke babak 6 besar. Salah satu panitianya pun memberikan selamat ke kami “Selamat, kalian mengalahkan SMA saya” ungkap salah satu panitia.

-----------------------------------
Sabtu, 7 Februari

Katanya Iyan saya tampil hari ini, jadi saya sudah mempersiapkan segalanya. Hari ini saya lebih siap dari yang kemarin. Kebetulan adik saya yang TK ikut lomba menggambar digedung sebelah. Panita menyuruh kami datang jam 08.00 dan saya berada di sana  pukul 07.45, tapi ternyata panitianya belum datang juga. Pukul 08.00 lebih teman saya akhirnya datang juga, tapi panitia belum datang baru kami berenam yang ada. Tak lama, sekolah lainpun berdatangan tapi lagi-lagi panitia belum datang. Kami memaklumkan itu karena kami juga selalu merasakan bagaimana susahnya menjadi panitia. Kira-kira pukul 09.00 lewat, kunci gedung terbuka dan kami diperolehkan masuk. Kami disuruh registrasi ulang dan melihat jadwal lomba. Ternyata saya tampilnya hari terakhir, benar apa yang dikatakan Dinda tapi saya lebih percaya sama Iyan.

Yogi tampilnya pagi ini, ia tampil terakhir Stand Up Comedy. Untuk hari ini Stand Up Comedy yang tampil hanya lima sekolah dan sisanya besok, begitupun orasi ilmiah. Dari ke empat lawan Yogi sebelumnya, belum ada yang bisa memecahkan suasana ketika  tampil. Hal itu dapat dimengerti karena orang yang berada di dalam semuanya lawan., sehingga sangat sulit untuk membuat mereka ketawa. Yogi kebetulan mengaku sama panitianya bahwa ia adalah anggota komunitas Stand Up Maros, ketika dia tampil, tidak dapat disangka suasana menjadi pecah dan orang-orang ketawa tanpa perlu dipaksa.

Ia begitu percaya diri, tapi lawan terberat Yogi belum tampil hari ini. Wahab, begitulah dia disapa, mewakili SMK 1 untuk bertempur. Dia juga anggota komunitas Stand Up Comedy Maros, dan dia  merupakan anggota terlucu dari yang lainnya.

Lagi-lagi SMAN 1 Maros tampil debat setelah Dhuhur, lawan mereka yakni SMA 9 Marusu, lawan yang kami anggap hanya satu yang berbahaya. Sebelum dhuhur kami melihat mereka begitu kerasnya latihan, tapi kami tak akan jatuh mental. Tiba saatnya beradu, tema yang diberikan panitia sebelumnya yakni ‘Penghapusan Kolom Agama Pada Kartu Tanda Penduduk’ ketika di undi di atas, SMAN 1 Maros mendapatkan tim Pro. Sebenarnya ini makanan Iyan, sebelum tampil dia mengaku bahwa ia lebih menyukai pro jika ini materinya. Iyan yang menjadi pembicara pertama pun mulai memberikan argumentasi  dengan tenang dan lebih baik dari kemarin. Hanya buku Undang-Undang yang dibawahnya ke atas. Hal ini sangat meyakinkan saya bahwa kami akan menang karena melihat pembicara pertama SMA 9 Marusu, hanya melihat sebuah teks dan belum dapat memberikan dasar yang akurat sedangkan kami sudah mengungkapkan dasar hukumnya. Pembicara Kedua kami pun begitu (Muhammad Syamsu Irham), membantah pembicara pertama SMA 9 dan memberikan dasar logikanya.Yang sangat berbahaya di SMAN 9 Marusu yakni pembicara keduanya yang debat sebelumnya menjadi pembicara pertama. Sebenarnya argumentasi dia tidak mengikat, tapi ia sangat cakap dalam berdebat. Kami pun memiliki seseorang yang jado berdebat, dia adalah Dyah, argumentasinya berisi bantahan dari argumentasi pembicara kedua SMA 9 Marusu , dan dampak yang terjadi jika tidak terjadi penghapusan kolom agama di KTP. Dyah memberikan alasan diskrimasi kaum minoritas yang mempunyai agama adat mereka selain agama yang dibolehkan di Negara kita. Sehingga mereka terpaksa untuk menuliskan agama salah satu dari keenam agama itu.

Disinih terjadi debat yang begitu alot, pembicara ketiga SMA 9 Marusu yang ketika sedang berargumentasi di interupsi oleh pembicara pertama SMAN 1 Maros dan dibidas oleh pembicara kedua SMAN 9 Maros, kemudian di bidas balik oleh pembicara ketiga kami. Pokoknya terjadi perdebatan antara kami dan pembicara kedua SMAN 9 Marusu. Ada satu hal yang membuat tim kami mulai sebal yakni ketika SMAN 1 menanyakan dasar hukum apa yang membuat dia (pembicara kedua) berargumentasi tapi tidak dijawab oleh SMA 9 Marusu malah memberikan pertanyaan lain yang sebetulnya sudah dijawab oleh SMAN 1 Maros. Sangguh perdebatan yang begitu panas.

Setelah debat selesai, juripun mengomentari pertarungan ini. Dan lagi-lagi semua yang apa dikritik juri selalu mengarah ke tim Pro atau  SMAN 1 Maros. Hal itu membuat teman kami gusar.

Setelah debat, giliran karya tulis ilmiah, Dinda tampil begitu baik. Hasil makalahnya pun original dan data yang diberikan begitu kompleks. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, tentu KTI Dinda masih ada kekurangan. Untuk yang tampil KTI hari ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa nilai Dinda lah yang tertinggi.

Magrib pun menjelang,  perlombaan untuk hari ini sudah selesai dan akan dilanjutkan esok hari. Panitia pun mengumumkan siapa yang akan lolos ke babak selanjutnya dalam cabang debat. Lagi-lagi Iyan berperilaku seperti kemarin. Hening di kubu kami ketika ternyata SMAN 9 Marusu yang lolos 3 besar beda satu poin dengan kami. Tentu rasa kecewa muncul pada diri Iyan dkk.

“Itulah lomba nak, SMAN 1Maros hanya dapat berlomba di tingkat provinsi. Jika di kabupaten maka pasti ada udang di balik batu. Begitulah fakta yang menjadi rahasian umum kepada guru-guru SMAN 1 Maros selama bertahun-tahun” ungkap bu St. Ali kepada kami.

-----------------------------

Ahad, 8 Februari 2015

Ini adalah hari ahad, dan kebetulan tepat ulang tahun saya. Teman-teman saya pun tidak ada yang tahu bahwa saya berulang tahun hari ini. Saya bangun dengan suasana hati kacau, selain karena kekalahan kemarin, saya juga begadang malamnya sehinngga paginya saya merasa lesuh. Saya akhirnya berkenalan dengan Ma Nahdatul Ulum yang ternyata banyak siswanya yang sangat mengagumi SMA 1 Maros. Saya pun begitu senang karena mereka begitu ramah.

Sampai pada ketika saya mulai tampil, tak banyak persiapan hari ini. Hanya ditemani dengan doa saya akhirnya melangkah ke depan dihiasi dengan almamater OSIS SMAN 1 Maros saya berorasi  sesuai apa yang diajarkan oleh guru pembimbing saya. Ketika saya selesai berorasi banyak pujian yang diberikan kepada saya. Sehingga saya optimis menang.

Teman-teman saya yang kalah dalam debat pun ikut datang mrnghadiri lomba hari terakhir ini karena di suruh oleh Pembina kami. Katanya kita harus menghargai jerih payah orang. Hari ini hanya saya yang tampil dari SMANSA. Kita hanya tinggal menunggu dan menonton lombanya. Saingan utama Yogi pun sudah tampil dan ternyata pada hari itu komunitas dari Stand Up Comedy Maros berdatangan sehingga Wahab mendapat dukungan positif. Seperti yang kami perkirakan, Wahab tampil begitu lucu dan membuat kami tertawa.
Final debat antara SMA 9 Marusu melawan Sekolah Putri Darul Istiqomah, sangat panas. Terjadi debat satu lawan satu antara pembicara kedua Darul Istiqomah dan SMA 9 Marusu. Dan debat final itu dimenangkan oleh Pesantren Putri Darul Istiqomah.

Pengumuman lomba lainnya baru akan dilaksanakan ba’da Magrib. Ketika kami mulai memasuki gedung, kami menemukan hal yang aneh karena panitia dan peserta dari SMA 9 Marusu bercampur baur bersama-sama bernyanyi ria. Sekian lama kami menunggu, pengumuman dimulai dari lomba orasi. Ternyata saya hanya juara 2. Dan mendapatkan juara 1 yakni SMA 3. Hal itu begitu mengagetkan saya karena apa yang ditampilkan SMA 3 hanyalah sebuah pidato. Belum lagi salah satu aspek yang dinilai kehafalan yang dimana SMA 3 mendapat nilai 100. Tentu ini begitu miris, karena saya yang menonton orasi mereka malah menemukan kesalah dengan mengucapkan kata ‘anu’ pada saat orasi. Tentu ini dapat mengurangi nilai mereka. Bukan nilai 100 yang dianggap sempurna. Dan jika kita mengacu pada lomba nasional, bagaimanapun bagusnya seseorang tidak akan mendapatkan nili 100.

Saya sendiri hanya mendapatkan nilai masing-masing 95 dari dua juri dan satunya lagi 75. Biasanya masing-masing juri tidak akan jauh perbedaanya memberikan nilai walaupun berbeda sudut pandang. Tapi itulah kehidupan, kita tidak mengetahui yang mana baik dan buruk. Yang kita dapat lakukan hanya berbaik sangka kepada orang lain. Semoga mereka objektif.

Karya Tulis Ilmiah yang di ikuti Dinda pun mendapatkan juara 3. Tentu ini membingungkan kami karena yang juara 1 SMA Bantimurung (saya lupa SMA berapa) justru mengumpulkan KTI-nya pada hari terakhir sedangkan yang kami ketahui bahwa batas pengumpulan KTI sampai tanggal 6 atau hari pertama. Belum lagi KTI mereka dilaksanakan dengan terburu-buru sehingga melupakan aspek terpenting yakni daftar isi. Lagi-lagi kami harus berbesar hati.

Stand Up Comedy sendiri yang juara 1 yakni Wahab dari SMK 1 dan Yogi mendapatkan juara 2. Jika kita mengacu pada sister olimpiade dengan Juara 1 mendapat poin 3, juara 2 mendapat poin 2, dan juara 3 mendapat poin 1. Maka jumlah poin yang kita dapat yakni 5 poin. Poin terbanyak dari sekolah lainnya. Tapi ternyata Stand Up Comedy tidak masuk hitungan sehingga poin kita cuma tiga. Sama dengan SMA 3 yang mendapat 3 point karena juara 1 lomba orasi dan SMA bantimurung yang juara 1 lomba KTI. Sedangkan Sekolah Putri Darul Istiqomah dan SMK 1 Lau tidak masuk hitungan karena tidak mengikuti cabang lomba walaupun jumlah point mereka tiga.

SMA 1 Maros keluar juara 3 umum karena tidak mendapatkan juara 1 sama sekali. SMA Bantimurung dan SMA 3 yang sama-sama punya emas (juara 1), untuk menentukan juaranya panitia mengakumulasi semua poin mereka dari setiap cabang lomba dan hasilnya SMA 3 lah yang mendapatkan juara umum dan berhak membawa piala bergilir.

Sungguh miris nasib kami yang membawa piala paling banyak malah hanya mendapatkan posisi ketiga, tapi tidak apalah. Itulah lomba, seperti apapun hasilnya kita harus berbesar hati.

Saya pun pulang dengan membawa piala juara 2 orasi ke rumah saya. Namun sesampai saya di rumah ternyata tulisan juara 2 orasi yang ada di kaki piala hilang. Kayaknya terjatuh, memang hanya ditempel dengan magnet sehingga mudah sekali terlepas. Sungguh begitu aneh, saya mendapatkan juara dua tapi hati saya tetap tidak senang ditambah lagi dengan masalah hilangnya tulisan di piala itu. Apa yang akan saya katakana kepada sekolah.

Disinilah peran ibu saya membangkitkan semangat saya “Yang sabar nak, dulu kan kamu pernah juara 3 lomba pidato, dan sekarang kamu juara 2 lomba orasi. Nanti lomba selanjutnya kamu akan juara 1, ibu doakan” Ucap ibu saya.

Tanpa menghabiskan waktu lama merenungi kegagalan. Saya akhirnyamembuka laptop, melanjutkan penulisan buku detektif saya yang sempat terbengkalai.


Pesan:

Tuhan tidak pernah tergesa-gesa dan Tuhan tidak pernah terlambat.. tapi Tuhan selalu tepat waktu untuk datang menolong kita.. namun Tuhan tidak selamanya mewujudkan apa yang kita minta, melainkan Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Memang kita tidak akan pernah puas dari apa yang kita dapatkan, tapi cobalah  untuk membuat suatu yang bermanfaat dari ketidakpuasan itu

Kegagalan bukanlah bermakna bahwa kita tidak dapat apa-apa, akan tetapi mengartikan bahwa kita telah mempelajari sesuatu

Salam Saya Muh. Aldy Jabir




You May Also Like

0 comments