Bongkahan Cerita Lomba PINTAR [Pekan Ilmiah Antar Pelajar] se-Kab Maros
Jumat, 6
Februari 2015
Ada yang spesial hari ini.
Tentu yang special itu bukanlah pacar baru. Akan tetapi hari ini, adalah hari
pertama dalam [PINTAR] PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR se-Kabupaten Maros. Ini
adalah lomba kedua saya yang saya ikuti atas nama sekolah selama menginjak
masa SMA. PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR yang diadakan oleh HPPMI UIN Alaudin
memiliki banyak cabang lomba, yakni Debat, Orasi ilmiah, Karya Ilmiah
Remaja, da Stand Up Comedy Ilmiiah. Saya sendiri mengikuti lomba ini pada
cabang orasi ilmiah. Sedangkan untuk debat di ikuti Bryan Habib Gautama, Diah
Tri Lestari (kedua orang ini memang jagonya debat) ditambah Muhammad Syamsu
Irham (anak kelas X yang punya pemikiran yang kritis). Untuk karya tulis ilmiah
sendiri diikuti Dinda Marzuki (Sekretaris OSIS loh) dan Yang mengikuti Stand Up
Comedy “Ilmiah” yakni Yogi Arista Fahrezi
Ada yang spesial hari ini.
Tentu yang special itu bukanlah pacar baru. Akan tetapi hari ini, adalah hari
pertama dalam [PINTAR] PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR se-Kabupaten Maros. Ini
adalah lomba kedua saya yang saya ikuti atas nama sekolah selama menginjak
masa SMA. PEKAN ILMIAH ANTAR PELAJAR yang diadakan oleh HPPMI UIN Alaudin
memiliki banyak cabang lomba, yakni Debat, Orasi ilmiah, Karya Ilmiah
Remaja, da Stand Up Comedy Ilmiiah. Saya sendiri mengikuti lomba ini pada
cabang orasi ilmiah. Sedangkan untuk debat di ikuti Bryan Habib Gautama, Diah
Tri Lestari (kedua orang ini memang jagonya debat) ditambah Muhammad Syamsu
Irham (anak kelas X yang punya pemikiran yang kritis). Untuk karya tulis ilmiah
sendiri diikuti Dinda Marzuki (Sekretaris OSIS loh) dan Yang mengikuti Stand Up
Comedy “Ilmiah” yakni Yogi Arista Fahrezi
-------------------
Hari ini dipagi yang cerah, suasana hati saya begitu
semangat tanpa ada sedikitpun ketegangan yang muncul. Ilalang nampaknya
bersahutan ketika saya lekas keluar. Saya menaiki mobil angkutan dengan
suasana yang gembira, seakan hati ini melukis di kanvas langit yang biru.
Sungguh merupakan suasana hati yang sangat berbeda dari orang-orang biasanya
dalam menghadapi lomba mereka.
Pada hari ini, kami tidak hanya berenam, akan tetapi ada juga guru
pembimbing kami Pak Syafri dan Bu St. Ali serta tamu undangan mewakili HPPMI
SMAN 1Maros dalam pembukaan yakni tiga orang kelas X yang turut mendukung kami
yakni Amalia Ilyas ( wakil bendahara OSIS), Jawahirus Saniah (Wakil Sekretaris
OSIS), dan Muhammad Arifuddin (Anggota 4 pilar dan HPPMI).
Pembukaan lomba HPPM ini sangat berbeda dan special karena adanyat
tarian gandrang bulo yang sungguh menarik para penonton. Saya pun
terkagum-kagum melihat pertunjukan itu pada kursi paling depan.
Ditambah lagi Penampilan Visualisasi puisi atau bisa dikatakan
dramatisasi puisi special dari KASSA (Kamar Sastra) yang sungguh menggetarkan
hati saya, seketika itu cinta saya terhadap sastra makin melambung tinggi dan
melayang-layang di bintang kejora. Benar-benar keren deh, sampai saya tak bisa
berkata apa-apa.
Pembukaan PINTAR menguras waktu yang begitu lama, setelah
perwakilan dari bupati Maros memberi sambutan plus motivasi kepada kami dan
bersamaan dengan membuka acara secara resmi. Lomba debatpun segera di mulai.
Dalam jadwal acara, SMAN 1 Maros tampil ke 3 melawan SMA 3 Lau
dengan tema, kata teman saya ini adalah lawan yang sulit. Sehingga teman-teman
saya tidak menganggap remeh mereka dan belajar semaksimal mungkin dengan tema
yang diberikan panitia.
Ada kejadian lucu sesaat sebelum SMAN 1 Maros tampil, yakni ketika
saya, Yogi dan Bryan pergi ke toilet antri, kami sempat dikira oleh
seorang ibu-ibu PNS bahwa kami sedang PKL. Tentu ini yang membuat kami ketawa,
dan menganggap bahwa muka kami sudah muka orang tua. Padahal kami sudah memakai
baju kebesaran sekolah. Sungguh nasib yang miris.
Ini adalah hari Jumat, sebelum shalat Jumat kami diajak makan
terlebih dahulu oleh guru pembimbing kami Bu St. Ali. Seorang guru yang ketika
membimbing anak muridnya untuk kepentingan lomba tidap pernah mau makan
ditempat yang murah. Kami diajak makan di rumah Makan Idaman yang cukup
terkenal. Sebenarnya tidak apa-apa juga sih, soalnya sekolah memang sudah
menyiapkan uang untuk kami.
Keasikan makan, kami hampir lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat,
segera kami berhenti dan berbegas ke Masjid Al Markas yang kebetulan tidak jauh
dari rumah Makan Idaman, sudah Khutbah ke dua sedangkan kami baru datang.
Sungguh perilaku yang tidak layak dicontoh.
Ba’da Jumat tepatnya, SMANSA akhirnya tampil juga, sebelum tampil
kami berdoa bersama dahulu. Rasa jantung yang berdetak lebih kencang dari
biasanya mulai mencuat. Kami yang menonton di bawah malah lebih gugup dari
teman-teman kami yang berada di atas.
Penampilan yang begitu keren dari SMANSA, argumentasi dan bantahan
yang menurut saya cukup bagus membuat saya yakin bisa lolos ke babak
selanjutnya. Tapi setelah dikomentari oleh dewan juri ternyata SMAN 1 Maros
banyak diberikan komentar negatif, dari etika debat sampai argumentasi yang
seharusnya dapat dilontarkan oleh tim kami tapi ternyata tidak kami bidas
kepada SMA 3 Lau. Sontak teman-teman kami pun tidak percaya diri karena dari
apa yang dikomentari oleh dewan juri yang paling banyak negatifnya adalah SMAN
1 Maros.
Walaupun hari ini kami sudah tampil, dan tidak ada lagi yang
kami perlombakan tapi guru pembimbing kami selalu memberikan nasehat kepada
kami bahwa SMAN 1 Maros itu disiplin, ramah dan paham aturan. Itu
terbukti dengan sekolah kami yang datang dari awal dari panitianya. Belum lagi
kami tetap menunggu sampai acara berakhir pada hari ini. Bukannya kami tidak
yakin untuk lolos sehingga kami harus memastikan sampai pengumuman tim yang
lolos di akhir acara, akan tetapi itulah SMAN 1 Maros.
Lewat jam lima sore, debat ditutup dengan pertarungan antara
Sekolah Putri Darul Istiqomah dan satunya lagi saya lupa. Iyan, begitu Bryan
Habib Gautama disapa, tampak lesuh, menyandarkan kepala di meja dengan ditutupi
jaket. Saya baru tahu ternyata begitulah Iyan ketika lomba. Ada panitia yang
menegur Iyan, “Kenapa dek, tidak perlu khawatir” dan ternyata SMAN 1 Maros
lolos ke babak 6 besar. Salah satu panitianya pun memberikan selamat ke kami
“Selamat, kalian mengalahkan SMA saya” ungkap salah satu panitia.
-----------------------------------
Sabtu, 7 Februari
Katanya Iyan saya tampil hari ini, jadi saya sudah mempersiapkan
segalanya. Hari ini saya lebih siap dari yang kemarin. Kebetulan adik
saya yang TK ikut lomba menggambar digedung sebelah. Panita menyuruh kami
datang jam 08.00 dan saya berada di sana pukul 07.45, tapi ternyata
panitianya belum datang juga. Pukul 08.00 lebih teman saya akhirnya datang
juga, tapi panitia belum datang baru kami berenam yang ada. Tak lama, sekolah
lainpun berdatangan tapi lagi-lagi panitia belum datang. Kami memaklumkan itu
karena kami juga selalu merasakan bagaimana susahnya menjadi panitia. Kira-kira
pukul 09.00 lewat, kunci gedung terbuka dan kami diperolehkan masuk. Kami
disuruh registrasi ulang dan melihat jadwal lomba. Ternyata saya tampilnya hari
terakhir, benar apa yang dikatakan Dinda tapi saya lebih percaya sama Iyan.
Yogi tampilnya pagi ini, ia tampil terakhir Stand Up Comedy. Untuk
hari ini Stand Up Comedy yang tampil hanya lima sekolah dan sisanya besok,
begitupun orasi ilmiah. Dari ke empat lawan Yogi sebelumnya, belum ada yang
bisa memecahkan suasana ketika tampil. Hal itu dapat dimengerti karena
orang yang berada di dalam semuanya lawan., sehingga sangat sulit untuk membuat
mereka ketawa. Yogi kebetulan mengaku sama panitianya bahwa ia adalah anggota
komunitas Stand Up Maros, ketika dia tampil, tidak dapat disangka suasana
menjadi pecah dan orang-orang ketawa tanpa perlu dipaksa.
Ia begitu percaya diri, tapi lawan terberat Yogi belum tampil hari
ini. Wahab, begitulah dia disapa, mewakili SMK 1 untuk bertempur. Dia juga
anggota komunitas Stand Up Comedy Maros, dan dia merupakan anggota
terlucu dari yang lainnya.
Lagi-lagi SMAN 1 Maros tampil debat setelah Dhuhur, lawan mereka
yakni SMA 9 Marusu, lawan yang kami anggap hanya satu yang berbahaya. Sebelum
dhuhur kami melihat mereka begitu kerasnya latihan, tapi kami tak akan jatuh
mental. Tiba saatnya beradu, tema yang diberikan panitia sebelumnya yakni
‘Penghapusan Kolom Agama Pada Kartu Tanda Penduduk’ ketika di undi di atas,
SMAN 1 Maros mendapatkan tim Pro. Sebenarnya ini makanan Iyan, sebelum tampil
dia mengaku bahwa ia lebih menyukai pro jika ini materinya. Iyan yang menjadi
pembicara pertama pun mulai memberikan argumentasi dengan tenang dan
lebih baik dari kemarin. Hanya buku Undang-Undang yang dibawahnya ke atas. Hal
ini sangat meyakinkan saya bahwa kami akan menang karena melihat pembicara
pertama SMA 9 Marusu, hanya melihat sebuah teks dan belum dapat memberikan
dasar yang akurat sedangkan kami sudah mengungkapkan dasar hukumnya. Pembicara
Kedua kami pun begitu (Muhammad Syamsu Irham), membantah pembicara pertama SMA
9 dan memberikan dasar logikanya.Yang sangat berbahaya di SMAN 9 Marusu yakni
pembicara keduanya yang debat sebelumnya menjadi pembicara pertama. Sebenarnya
argumentasi dia tidak mengikat, tapi ia sangat cakap dalam berdebat. Kami pun
memiliki seseorang yang jado berdebat, dia adalah Dyah, argumentasinya berisi
bantahan dari argumentasi pembicara kedua SMA 9 Marusu , dan dampak yang
terjadi jika tidak terjadi penghapusan kolom agama di KTP. Dyah memberikan
alasan diskrimasi kaum minoritas yang mempunyai agama adat mereka selain agama
yang dibolehkan di Negara kita. Sehingga mereka terpaksa untuk menuliskan agama
salah satu dari keenam agama itu.
Disinih terjadi debat yang begitu alot, pembicara ketiga SMA 9
Marusu yang ketika sedang berargumentasi di interupsi oleh pembicara pertama
SMAN 1 Maros dan dibidas oleh pembicara kedua SMAN 9 Maros, kemudian di bidas
balik oleh pembicara ketiga kami. Pokoknya terjadi perdebatan antara kami dan
pembicara kedua SMAN 9 Marusu. Ada satu hal yang membuat tim kami mulai sebal
yakni ketika SMAN 1 menanyakan dasar hukum apa yang membuat dia (pembicara
kedua) berargumentasi tapi tidak dijawab oleh SMA 9 Marusu malah memberikan
pertanyaan lain yang sebetulnya sudah dijawab oleh SMAN 1 Maros. Sangguh
perdebatan yang begitu panas.
Setelah debat selesai, juripun mengomentari pertarungan ini. Dan
lagi-lagi semua yang apa dikritik juri selalu mengarah ke tim Pro atau
SMAN 1 Maros. Hal itu membuat teman kami gusar.
Setelah debat, giliran karya tulis ilmiah, Dinda tampil begitu
baik. Hasil makalahnya pun original dan data yang diberikan begitu kompleks.
Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, tentu KTI Dinda masih ada kekurangan. Untuk
yang tampil KTI hari ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa nilai Dinda lah
yang tertinggi.
Magrib pun menjelang, perlombaan untuk hari ini sudah
selesai dan akan dilanjutkan esok hari. Panitia pun mengumumkan siapa yang akan
lolos ke babak selanjutnya dalam cabang debat. Lagi-lagi Iyan berperilaku
seperti kemarin. Hening di kubu kami ketika ternyata SMAN 9 Marusu yang lolos 3
besar beda satu poin dengan kami. Tentu rasa kecewa muncul pada diri Iyan dkk.
“Itulah lomba nak, SMAN 1Maros hanya dapat berlomba di tingkat
provinsi. Jika di kabupaten maka pasti ada udang di balik batu. Begitulah fakta
yang menjadi rahasian umum kepada guru-guru SMAN 1 Maros selama bertahun-tahun”
ungkap bu St. Ali kepada kami.
-----------------------------
Ahad, 8 Februari 2015
Ini adalah hari ahad, dan kebetulan tepat ulang tahun saya.
Teman-teman saya pun tidak ada yang tahu bahwa saya berulang tahun hari ini.
Saya bangun dengan suasana hati kacau, selain karena kekalahan kemarin, saya
juga begadang malamnya sehinngga paginya saya merasa lesuh. Saya akhirnya
berkenalan dengan Ma Nahdatul Ulum yang ternyata banyak siswanya yang sangat
mengagumi SMA 1 Maros. Saya pun begitu senang karena mereka begitu ramah.
Sampai pada ketika saya mulai tampil, tak banyak persiapan hari
ini. Hanya ditemani dengan doa saya akhirnya melangkah ke depan dihiasi dengan
almamater OSIS SMAN 1 Maros saya berorasi sesuai apa yang diajarkan oleh
guru pembimbing saya. Ketika saya selesai berorasi banyak pujian yang diberikan
kepada saya. Sehingga saya optimis menang.
Teman-teman saya yang kalah dalam debat pun ikut datang mrnghadiri
lomba hari terakhir ini karena di suruh oleh Pembina kami. Katanya kita harus
menghargai jerih payah orang. Hari ini hanya saya yang tampil dari SMANSA. Kita
hanya tinggal menunggu dan menonton lombanya. Saingan utama Yogi pun sudah
tampil dan ternyata pada hari itu komunitas dari Stand Up Comedy Maros
berdatangan sehingga Wahab mendapat dukungan positif. Seperti yang kami
perkirakan, Wahab tampil begitu lucu dan membuat kami tertawa.
Final debat antara SMA 9 Marusu melawan Sekolah Putri Darul
Istiqomah, sangat panas. Terjadi debat satu lawan satu antara pembicara kedua
Darul Istiqomah dan SMA 9 Marusu. Dan debat final itu dimenangkan oleh
Pesantren Putri Darul Istiqomah.
Pengumuman lomba lainnya baru akan dilaksanakan ba’da Magrib.
Ketika kami mulai memasuki gedung, kami menemukan hal yang aneh karena panitia
dan peserta dari SMA 9 Marusu bercampur baur bersama-sama bernyanyi ria. Sekian
lama kami menunggu, pengumuman dimulai dari lomba orasi. Ternyata saya hanya
juara 2. Dan mendapatkan juara 1 yakni SMA 3. Hal itu begitu mengagetkan saya
karena apa yang ditampilkan SMA 3 hanyalah sebuah pidato. Belum lagi salah satu
aspek yang dinilai kehafalan yang dimana SMA 3 mendapat nilai 100. Tentu ini
begitu miris, karena saya yang menonton orasi mereka malah menemukan kesalah
dengan mengucapkan kata ‘anu’ pada saat orasi. Tentu ini dapat mengurangi nilai
mereka. Bukan nilai 100 yang dianggap sempurna. Dan jika kita mengacu pada
lomba nasional, bagaimanapun bagusnya seseorang tidak akan mendapatkan nili 100.
Saya sendiri hanya mendapatkan nilai masing-masing 95 dari dua
juri dan satunya lagi 75. Biasanya masing-masing juri tidak akan jauh
perbedaanya memberikan nilai walaupun berbeda sudut pandang. Tapi itulah
kehidupan, kita tidak mengetahui yang mana baik dan buruk. Yang kita dapat
lakukan hanya berbaik sangka kepada orang lain. Semoga mereka objektif.
Karya Tulis Ilmiah yang di ikuti Dinda pun mendapatkan juara 3.
Tentu ini membingungkan kami karena yang juara 1 SMA Bantimurung (saya lupa SMA
berapa) justru mengumpulkan KTI-nya pada hari terakhir sedangkan yang kami
ketahui bahwa batas pengumpulan KTI sampai tanggal 6 atau hari pertama. Belum
lagi KTI mereka dilaksanakan dengan terburu-buru sehingga melupakan aspek
terpenting yakni daftar isi. Lagi-lagi kami harus berbesar hati.
Stand Up Comedy sendiri yang juara 1 yakni Wahab dari SMK 1 dan
Yogi mendapatkan juara 2. Jika kita mengacu pada sister olimpiade dengan Juara
1 mendapat poin 3, juara 2 mendapat poin 2, dan juara 3 mendapat poin 1. Maka
jumlah poin yang kita dapat yakni 5 poin. Poin terbanyak dari sekolah lainnya.
Tapi ternyata Stand Up Comedy tidak masuk hitungan sehingga poin kita cuma
tiga. Sama dengan SMA 3 yang mendapat 3 point karena juara 1 lomba orasi dan
SMA bantimurung yang juara 1 lomba KTI. Sedangkan Sekolah Putri Darul Istiqomah
dan SMK 1 Lau tidak masuk hitungan karena tidak mengikuti cabang lomba walaupun
jumlah point mereka tiga.
SMA 1 Maros keluar juara 3 umum karena tidak mendapatkan juara 1
sama sekali. SMA Bantimurung dan SMA 3 yang sama-sama punya emas (juara 1),
untuk menentukan juaranya panitia mengakumulasi semua poin mereka dari setiap
cabang lomba dan hasilnya SMA 3 lah yang mendapatkan juara umum dan berhak
membawa piala bergilir.
Sungguh miris nasib kami yang membawa piala paling banyak malah
hanya mendapatkan posisi ketiga, tapi tidak apalah. Itulah lomba, seperti
apapun hasilnya kita harus berbesar hati.
Saya pun pulang dengan membawa piala juara 2 orasi ke rumah saya.
Namun sesampai saya di rumah ternyata tulisan juara 2 orasi yang ada di kaki
piala hilang. Kayaknya terjatuh, memang hanya ditempel dengan magnet sehingga mudah
sekali terlepas. Sungguh begitu aneh, saya mendapatkan juara dua tapi hati saya
tetap tidak senang ditambah lagi dengan masalah hilangnya tulisan di piala itu.
Apa yang akan saya katakana kepada sekolah.
Disinilah peran ibu saya membangkitkan semangat saya “Yang sabar
nak, dulu kan kamu pernah juara 3 lomba pidato, dan sekarang kamu juara 2 lomba
orasi. Nanti lomba selanjutnya kamu akan juara 1, ibu doakan” Ucap ibu saya.
Tanpa menghabiskan waktu lama merenungi kegagalan. Saya
akhirnyamembuka laptop, melanjutkan penulisan buku detektif saya yang sempat
terbengkalai.
Pesan:
Tuhan tidak pernah tergesa-gesa dan Tuhan tidak pernah terlambat..
tapi Tuhan selalu tepat waktu untuk datang menolong kita.. namun Tuhan tidak
selamanya mewujudkan apa yang kita minta, melainkan Tuhan selalu memberi apa
yang kita butuhkan.
Memang kita tidak akan pernah puas dari apa yang kita dapatkan,
tapi cobalah untuk membuat suatu yang bermanfaat dari ketidakpuasan itu
Kegagalan bukanlah bermakna bahwa kita tidak dapat apa-apa, akan
tetapi mengartikan bahwa kita telah mempelajari sesuatu
Salam Saya Muh. Aldy Jabir
0 comments